Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke DIY Diproyeksikan Tembus 270 Ribu
- Administrator
- Kamis, 27 November 2025 07:29
- 17 Lihat
- Sorotan
Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) optimistis kunjungan wisatawan mancanegara ke provinsi ini pada 2025 bisa menembus 270 ribu orang hingga akhir tahun, meningkat dari 202.312 orang yang telah dicapai hingga saat ini. Kepala Dispar DIY Imam Pratanadi mengatakan bahwa proyeksi tersebut realistis mengingat puncak kunjungan wisman ke DIY biasanya terjadi pada dua bulan terakhir setiap tahun.
Imam mengatakan, proyeksi tersebut realistis mengingat puncak kunjungan wisman ke DIY biasanya terjadi pada dua bulan terakhir setiap tahun. "Di bulan November-Desember itu masanya salah satu puncak kunjungan wisatawan mancanegara. Sehingga angka itu saya rasa relevan untuk kemudian kita perkirakan akan tercapai di tahun 2025 ini," kata dia dalam keterangannya.
Untuk mendorong capaian itu, Dispar DIY mengandalkan sejumlah kegiatan promosi bersama kementerian maupun perwakilan RI di luar negeri. Imam menyebut beberapa kali DIY menerima kunjungan familiarization trip (famtrip) yang membawa pelaku industri perjalanan hingga pemengaruh (influencer) dari berbagai negara untuk melihat langsung destinasi di Yogyakarta.
Tiga negara penyumbang wisman terbesar di DIY masih berasal dari Malaysia, Singapura, dan China. Sementara itu, destinasi yang paling banyak dikunjungi hingga saat ini adalah Borobudur, Kota Yogyakarta, dan Prambanan. Di Kota Yogyakarta, Malioboro, Keraton Yogyakarta, dan Taman Sari masih menjadi daya tarik utama.
Imam mengatakan, tren kenaikan jumlah wisman di DIY sejatinya konsisten setiap tahun sejak masa pemulihan pascapandemi. Namun, dari 2024 ke 2025 terjadi perlambatan karena baru bertambah sekitar 14.466 orang. Tren perlambatan tersebut, menurut dia, salah satunya dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat yang membatasi aktivitas "direct selling" ke luar negeri sejak 2023.
Kondisi itu membuat DIY tidak lagi mampu menyasar pasar-pasar yang selama ini menjadi andalan, termasuk Belanda, Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat. Menurut Imam, hilangnya ruang promosi langsung di negara tujuan menyebabkan beberapa pasar melemah, termasuk Korea dan Jepang.
Foto: